Identitas Buku
Judul
buku : Lintang Kemukus Dini Hari
Pengarang : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal
buku : 211 Halaman
Sinopsis
Gramedia menerbitkan novelnya yang ketiga Ronggeng Dukuh Paruk (1981). Lintang Kemukus Dini Hari adalah buah
karya yang keempat, merupakan satu dari trilogi tentang Ronggeng Dukuh Paruk. Ahmad Tohari tidak pernah melepaskan diri
dari pengalaman hidup kedesaannnya. Maka warna hampir semua karyanya adalah
lapisan bawah dengan latar alam dengan gambaran deskripsi yang begitu jelas.
Dia memiliki kesadaran dan wawasan alam yang begitu jelas terlihat pada
tulisan-tulisannya. Boleh jadi karena rasa ketertarikannya dengan keaslian alam
maka Ahmad Tohari tidak betah hidup di kota.
Rasus telah pergi bersama tentara pimpinan Sersan Slamet.Hal
ini membuat Srintil sakit hati karena Rasus pergi tanpa pamit. Srintil mulai
berubah sikapnya, ia sering merenung dan menangis. Bahkan Srintil berani
menolak untuk tampil menari.Suatu hari Srintil melihat anak-anak kambing yang
sedang menetek, tiba-tiba hasrat untuk memiliki bayi muncul
dibenaknya.Pak Marsusi yang datang untuk menemui Srintil tidak dapat terwujud.
Srintil pergi ke pasar Dawuan, ia pun beristirahat di salah satu warung nasi.
Semua orang yang melihat Srintil nampak kasihan.Di pasar Dawuan Srintil bertemu
dengan Kopral Pujo dan mendengar berita bahwa Rasus telah pergi ke markas
batalyon.Mendengar berita itu, Srintil menjadi lebih murung.Kemudian datang
Nyai Sakarya dan mengajak Srintil pulang ke Dukuh Paruk.
Srintil sakit untuk waktu yang cukup lama.Hanya bayi yang
bernama Goder yang dapat menyembuhkannya.Srintil kembali sehat dan kini wajah
dan bentuk tubuhnya sangat menarik perhatian orang-orang yang melihatnya.Suatu
hari Pak Marsusi datang lagi ke rumah Kertareja, Srintil pun mau
menemuinya.Namun Srintil tetap dengan menggendong Goder.Srintil ingin diajak
pergi jalan-jalan, tapi menolak.Pak Marsusi yang datang dengan membawa kalung
emas kecewa dan marah besar.Nyai Kertareja pun memarahi Srintil dan menyinggung
tentang orang tua Srintil yang telah tiada.Hal ini membuat Srintil bersedih.
Sakarya merasa Dukuh Paruk akan kehilangan pamornya. Pikiran
Sakarya bertambah kacau karena hampir setiap hari ada kejadian-kejadian aneh.Ia
pun pergi ke makam Ki Secamenggala untuk memberi sesaji. Suatu hari pak Ranu
datang untuk meminta Srintil untuk menari di hari perayaan Agustusan. Srintil
masih bimbang akan permintaan Pak Ranu. Srintil kasihan melihat keadaan ekonomi
keluarga Sakum yang serba kekurangan semenjak tidak ada pementasan.Sakum dengan
yakinnya meyakinkan kepada Srintil bahwa indang ronggeng masih
bersemayam dalam diri Srintil dan meminta Srintil untuk melupakan Rasus.
Di suatu tempat, Pak Marsusi sedang bingung dihadapan Pak
Tarim.Niatnya untuk menghabisi nyawa Srintil melalui guna-guna tidak
terlaksana.Ia lebih memilih untuk membalas rasa malu dengan rasa malu juga.
Kabar gembira cepat tersiar, Srintil akan kembali menari dalam acara Agustusan.
Hanya Sakarya yang merasa agak risau karena permintaan yang aneh-aneh dari
pihak panitia di antaranya meminta Kertareja mengubah beberapa bait dalam
lagu-lagu yang akan dinyayikan dengan kata “rakyat dan revolusi”.
Srintil dengan usianya delapan belas tahun akan menghibur
Dawuan. Tapi Sakarya dan Kertareja bingung karena mereka tidak diperbolehkan
membakar sesaji.Akhirnya Sakarya pergi menjauh dan membakar sesaji secara
tersembunyi.Saat pentas semua orang nampak gembira, Srintil pun ikut
merasakannya.Namun Sakum yang dalam keadaan buta bisa merasakan bahwa gerakan
tarian Srintil lebih kepada emosi. Srintil dalam tariannya merasa bahwa ia
tidak lagi bersedih karena Rasus telah pergi. Srintil tergugah hatinya ketika
melihat sosok pemuda bernama Tri Murdo.Kejadian yang tidak disangka datang,
srintil mendadak sesak nafas berulang kali hingga akhirnya pentas
berakhir.Kertareja yang merasa janggal, pergi ke kerumunan orang.Ia mendapati
Pak Marsusi yang sedang menyamar. Ternyata Pak Marsusi orang yang membuat
Srintil sesak nafas dengan jimatnya.
Suatu hari datang seorang yang kaya raya bernama Sentika
dari Alas Wangkal.Sentika ingin meminta Srintil untuk menari di rumahnya dan
ingin Srintil menjadi gowok untuk anak laki-lakinya.Srintil mau menerima
tawaran itu.Melihat Waras anak Sentika Srintil tertawa karena ternyata Waras
mengalami keterbelakangan mental.Ini menjadi tantangan tersendiri bagi Srintil
untuk menjadi gowok.Malam hari ketika pentas, Srintil mencoba memancing birahi
Waras tetapi tidak berhasil.Suatu hari Sentika dan Istrinya meninggalkan Waras
untuk tinggal berdua bersama Srintil.Setiap hari Srintil harus mengajari Waras
tentang bagaimana pekerjaan laki-laki dan suami, namun yang terjadi sangat
mengecewakan.Waras tidak memiliki tenaga layaknya lelaki, lebih lagi nafsu
birahi.Bagi Srintil menjadi gowiok adalah pengalaman yang tidak terlupakan.
Tahun 1964Dukuh Paruk menjadi sangat miskin.Pentas ronggeng
jarang terdengar.Tetapi suatu hari datang tawaran dari Pak Bakar, seorang dari partai
tertentu.Ronggeng kembali sering dipentaskan demi untuk meraih simpati
masyarakat.Sakarya dan Kertareja tidak bisa menolak permintaan Pak Bakar karena
ingin membalas budi, sebab kini rombongan ronggeng telah diberi alat-alat
elektronik untuk pementasan.Suatu malam ketika sedang pentas, ada banyak
penonton mabuk dan kesurupan.Mereka yang kesurupan merusak sawah yang sedang
mau panen.Terjadilah tawuran antara petani dan perusak padi tersebut.Kejadian
ini membuat Srintil dan rombongannya memutuskan untuk tidak lagi pentas di
acara Pak Bakar.
Suatu pagi warga Dukuh Paruk marah, makam Ki Secamenggala
dirusak.Mereka mendapati sebuah caping hijau tergeletak disemak-semak.Mereka
menduga orang dari partai yang masanya sering mengenakan caping tersebut
sebagai pelakunya.Orang dri partai tersebut memang tidak suka dengan segala
kegiatan warga Dukuh Paruk.Atas kejadian ini, Srintil dan rombongannya kembali
mau meronggeng.Srintil ingin menunjukkan perlawanan bagi partai yang merusak
makam leluhurnya.
Senja di Dukuh Paruk disambut keributan besar. Hampir semua
rumah di Dukuh Paruk terbakar habis. Sementara Srintil, Kertareja beserta
istrinya, dan Sakarya ditangkap polisi karena diduga terkait gerakan Pak Bakar
yang dilarang pemerintah. Orang-orang Dukuh Paruk tidak ada yang mengetahui
bahwa mereka menjadi korban fitnah Pak Bakar dan di dalam penjara Srintil
sangat tersiksa, ia harus menjadi korban atas kekejaman para aparat.
Pada buku kedua dari trilogi novel Ahmad Tohari yang
berjudul “Lintang Kemukus Dini Hari” memfokuskan cerita pada Srintil. Budaya,
tradisi Jawa yang kental masih mewarnai jalan cerita, begitu pula dengan
kehidupan desa dengan deskripsi alam yang memukau. Pergolakan politik tahun
1965 ikut ambil bagian di dalam latar cerita. Secara keseluruhan saya lebih
menyukai bagian ini daripada bagian pertama, karena terkesan lebih detil dan
eksplorasi karakter dan emosinya lebih mengena.
Dalam lintang kemukus dini hari digambarkan suasana
pedukuhan yang jauh dari keramaian nan tenang dan damai. Ahmad Tohari lihai
menggambarkan suasana dan budaya pedesaan karena latar belakang sebagai anak
desa melekat padanya. Penggambaran seperti ini menimbulkan imajinasi indah
dalam pemikiran pembaca yang dapat menariknya untuk terus membaca. Namun, jika dicermati secara detail mengenai latar
belakang pengarang yang notabennya seorang jebolan dari pondok pesantren,
karyanya dianggap bersebrangan dengan nilai estetika agama. Dalam ovel ini
setiap suku memiliki kepercayaan mistis, namun belakangan kepercayaan mistis
hilang seiring perkembangan jaman dan teknologi.
Jika dinilai dengan perspektivisme, karya ini layak menjadi
acuan budaya saat ini. Contohnya budaya masyarakat Indonesia terutama jawa yang
kepercayaan mistisnya masih tinggi dengan mempercayai sasmita alam masih terjadi
hingga saat ini. Namun, jika dinilai secara absolutisme, pengarang yang
notabennya jebolan pondok pesantren dianggap mahfum dalam hal agama dengan
lihai menceritakan hal vulgar, mengenai ronggeng.
Dalam serangkaian trilogi Dukuh Paruk Ahmad Tohari. Membaca
ini, saya sampai harus mencari arti beberapa kata atau istilah, yang tentunya
berasal dari bahasa daerah. Agak kurang mengerti, tapi sedikitpun tidak
mengurangi kekaguman saya terhadap novel ini. Saya terkagum-kagum dengan detail
alam yang menyertai narasi buku ini.
Unsur yang menonjol dalam novel ini
adalah unsur intrinsik karena penggambaran suasana dusun yang tenang
diungkapkan secara datai dan nyata oleh pengarang, namun sekali lagi, dianggap
melampaui batas norma dilingkungannya. Meskipun demikian karya ini memiliki
keunggulan dalam penceritaan. Penggambaran tokoh, latar belakang, suasana dan
konflik yang mendetail namun menyeluruh.
Dibandingkan dengan karya Ahmad
Tohari yang lain yaitu karyanya yang pertama Ronggeng Dukuh Paruk dalam karya yang keempat ini Ahmad Tohari
lebih lihai dalam menceritakan keadaan alam sekitarnya hal ini terlihat dari
kutipan berikut “Dukuh Paruk masih iam
meskipun beberapa jenis satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi.
Kambing-kambing mulai gelisah dalam kandangnya. Koko ayam jantan terdengar
satu-satu, makin lama makin sering. Burung sikatan mencecet-cecet dari tempat
persembunyiannya,….”
Bagian
ini memfokuskan cerita pada Srintil. Budaya, tradisi Jawa yang kental masih
mewarnai jalan cerita, begitu pula dengan kehidupan desa dengan deskripsi alam
yang memukau. Pergolakan politik tahun 1965 ikut ambil bagian di dalam latar
cerita. Secara keseluruhan saya lebih menyukai bagian ini daripada bagian
pertama walaupun saya membacanya novel Ronggeng
Dukuh paruk tidak penuh, karena alam novel Lintang Kemukus Dini Hari terkesan lebih detil dan eksplorasi
karakter dan emosinya lebih mengena. di buku pertama Ahmad Tohari banyak
menyinggung tokoh Rasus, maka di buku ini tokoh Srintil, ronggeng dari dukuh
paruk menjadi figur sentral, tentang mana dia menjadi seorang perempuan,
remaja, gadis dan ide tentang seorang ibu khas dengan pendekatan-penekatannya.
Alur yang digunakan dalam novel Lintang Kemukus Dini Hari adalah alur maju
dibandingkan dengan novel sebelumnya yang menggunakan tiga alur yaitu alur
berdasarkan kronologis (alur camouran), alur berdasarkan kuantitas (alur
jamak), alur berdasarkan akhir cerita (alur terbuka).
Setelah saya bandingkan lagi dengan filmnya yang berjudul
Sang Penari, cerita di buku disbanding dengan filmnya lebih lengkap. Di film
Sang Penari tersebut ceritanya banyak yang dipotong dan adegannya banyak pula
yang dipotong tidak sepenuhnya diperankan oleh pemainnya. Cerita dibuku lebih
runtut dan jelas disbanding dibuku. Di film tersebut pengucapan bahasanya
banyak yang tidak jelas juga, adegan yang awalnya udah ditayangkan diakhir film
ditayangkan lagi, sehingga menjadikan penonton yang mungkin belum pernah
membaca bukunya akan kebingungan dengan jalan cerita di film tersebut.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar